SANGATTA – Ketersediaan tenaga kesehatan di sejumlah puskesmas pedalaman Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih belum memadai, namun program Nusantara Sehat (NS) dari Kementerian Kesehatan menjadi penopang utama dalam menjaga pelayanan tetap berjalan. Kondisi ini disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, di Sangatta.
Menurutnya, sejumlah puskesmas belum dapat memenuhi standar formasi berdasarkan Permenkes Nomor 43 Tahun 2019. Regulasi tersebut menetapkan bahwa puskesmas non-rawat inap harus memiliki satu dokter umum dan puskesmas rawat inap minimal dua dokter umum, lengkap dengan satu dokter gigi untuk seluruh jenis puskesmas.
Meski demikian, proses pemenuhan tenaga medis masih terkendala minat tenaga kesehatan untuk ditempatkan di wilayah terpencil. “Kalau untuk pedalaman, ada dokter yang tidak mau,” ujar Sumarno, menggambarkan tantangan utama.
Saat ini Kutim memiliki 21 puskesmas berstatus BLUD yang sebenarnya memungkinkan rekrutmen tenaga secara mandiri. Namun sejumlah fasilitas, seperti Puskesmas Batu Ampar dan Rantau Pulung, masih tercatat kekurangan tenaga medis. Batu Ampar belum memiliki dokter gigi, sementara Rantau Pulung sempat kehilangan dokter umum.
Dalam situasi tersebut, program Nusantara Sehat menjadi solusi paling efektif. NS menempatkan tenaga kesehatan individu maupun tim ke daerah terpencil, sangat terpencil, hingga perbatasan (DTPK). Beberapa tenaga NS telah aktif melayani masyarakat di Puskesmas Sandaran, Karangan, dan Muara Wahau.
Sumarno menyebut kehadiran mereka benar-benar membantu operasional puskesmas, terlebih seluruh pembiayaan ditanggung oleh Kemenkes. “Kalau tidak ada itu, kalang kabut kita,” tegasnya. (Adv)
